-
Rio dwistolow of Justiscat akrilik di kanvasRp. 12.000.000,-karikatur oil paster 50x63cmdi kertas duplekRp. 300.000/ wajahArtis: Rio Dwi SepriantoJudul : tersangkutcat miyak di kanvas140 x90 cm 2014Harga 2 MArtis: Rio Dwi SepriantoJudul : terisolasicat miyak di kanvas70 x90 cm 2016Harga Rp. 60.000.000,-Artis: Rio Dwi SepriantoJudul : Mencari Cahayacat miyak di kanvas140 x120 cm 2017Harga Rp. 120.000.000,-
Kamis, 14 Maret 2013
Kamis, 20 Oktober 2011
surealisme
Label:
Rp.13.000.000
Lokasi: indonesia
Indonesia
Jumat, 23 September 2011
I. DEVINISI
Surealisme, adalah sebuah aliran seni dan kesusastraan yang menjelajahi
dan merayakan alam mimpi dan pikiran bawah sadar melalui penciptaan
karya visual, puisi, dan film. Surealisme diluncurkan secara resmi di
Paris, Perancis, pada tahun 1924, ketika penulis Perancis Andre Breton
menulis manifesto pertama surealisme, mengguratkan ambisi-ambisi akan
kelahiran gerakan baru. (Breton menuliskan dua lagi manifesto surealis,
pada tahun 1930 dan 1942). Gerakan tersebut segera menyebar ke wilayah
lain di Eropa, juga ke wilayah Amerika Utara dan Selatan. Di antara
kontribusi-kontribusi yang paling penting dari gerakan surealis adalah
penemuan teknik artistik baru yang terhubung ke alam pikiran bawah sadar
seniman.
II. SEJARAH SUREALISM
Surealisme, dalam banyak karakteristik, merupakan kelanjutan dari gerakan seni pendahulunya yang dikenal sebagai Dada, yang didirikan di tengah berkecamuknya Perang Dunia I (1914-1918). Terhentak oleh kenyataan kehancuran besar-besaran dan melayangnya begitu banyak nyawa yang diakibatkan perang, motivasi-motivasi para Dadais secara kuat bersifat politis: untuk mengejek kebudayaan, pemikiran, teknologi, bahkan seni. Mereka percaya bahwa keyakinan apapun akan kemampuan kemanusiaan untuk mengembangkan diri melalui seni dan kebudayaan, khususnya setelah penghancuran yang belum pernah terjadi sebelumnya akibat perang, adalah naif dan tidak realistis. Sebagai akibatnya, para Dadais menciptakan karya menggunakan ketidaksengajaan, kemungkinan, dan apapun yang menekankan pada irasionalitas kemanusiaan: contohnya, menulis puisi-puisi dengan serpihan-serpihan cukilan dari koran yang dipilih secara acak, berbicara dengan kata-kata tak masuk akal keras-keras, dan mendaulat obyek sehari-hari sebagai karya seni. Program surealis adalah pengembangan dari Dada, tapi menaruh lebih banyak pandangan positif secara esensial pada pesan negatif Dada .
Para surealis secara hebat dipengaruhi oleh Sigmund Freud, pendiri psikoanalisis dari Austria. Mereka terutama sangat menerima pembedaannya antara ego dan id-yaitu, antara naluri-naluri dan hasrat-hasrat utama kita (id) dan corak perilaku kita yang lebih beradab dan rasional (ego). Sejak tuntutan dan kebutuhan utama kita secara berkala berjalan bersinggungan dengan pengharapan masyarakat, Freud menyimpulkan bahwa kita menekan hasrat asli kita ke dalam bagian bawah sadar pikiran kita. Untuk individu yang ingin menikmati kesehatan kejiwaan, ia rasa, mereka harus membawa hasrat-hasrat itu ke pikiran sadar. Freud percaya bahwa – mengesampingkan desakan tuntutan untuk menekan hasrat-hasrat – yang ada di pikiran bawah sadar tetap menampilkan dirinya, terutama ketika pikiran yang sadar melonggarkan cengkeramannya; dalam mimpi, mitos, corak kelakuan ganjil, terpelesetnya lidah, ketidaksengajaan, dan seni. Dalam pencarian untuk mendapatkan akses ke alam pikiran bawah sadar, para surealis menciptakan bentuk dan teknik baru seni yang radikal.
Pameran seni rupa Bentangkarya, Pekanbaru - Riau
Islamic Centre 120x100 cm
Oil on Canvas
Nabi Nuh
Oil on Canvas, 140x90 cm
Oil on Canvas, 60x75 cm
III. MIMPI-MIMPI, MITOS-MITOS, DAN METAMORFOSIS
Mimpi, menurut Freud, adalah jalan terbaik untuk mempelajari alam
bawah sadar, karena dalam mimpilah pikiran bawah sadar kita,
hasrat-hasrat utama menampilkan dirinya. Ketidakberaturan dalam mimpi,
Freud percaya, adalah hasil dari pergulatan memperebutkan dominasi
antara ego dan id. Dalam usaha untuk mengakses kinerja pikiran yang
sebenarnya, banyak surealis yang menggali untuk meraba kualitas mimpi
yang tak masuk akal. Para pemimpin dari seniman-seniman tersebut antara
lain Salvador Dali dari Spanyol, dan Rene Margrite serta Paul Delvaux
dari Belgia.Untuk mengungkap kualitas irasional dari alam mimpi – dan secara bersamaan, untuk mengejutkan para penyimaknya – banyak pelukis surealis menggunakan representasi yang realistis, tapi meletakkan secara berdampingan objek-objek dan gambarannya dengan cara yang irasional. Dalam “Magritte’s Pleasure” (1927, Kunstsammlung Nordrhein-Westfalen, Düsseldorf, Jerman), sebagai contohnya, seorang gadis kecil mencabik-cabik seekor burung dengan giginya lalu menelannya hidup-hidup. Karya tersebut menggarisbawahi kejahatan umat manusia, sambil mempermainkan ketidakcocokan antara judul dan gambarannya. Dalam karya Dali, Apparition of Face and Fruit Dish on a Beach (1938, Wadsworth Atheneum Museum of Art, Hartford, Connecticut), buah-buahan pelengkap hidangan tampak menggentayang sebagai wajah, jembatan sebagai kalung kekang anjing, dan pantai sebagai taplak meja, tergantung apa yang menjadi fokus penyimaknya.
Dali juga bereksperimen dengan film, yang menawarkan kemungkinan memotong, menindih, mencampur, atau memanipulasi gambar untuk menciptakan penyejajaran gambar sedemikian rupa yang mengguncang penyimaknya. Dalam film seperti Un chien Andalou (An Adalusian Dog, 1929) dan L’age d’or (The Golden Age, 1930), dua-duanya adalah hasil kolaborasi dengan sutradara Spanyol Luis Bunuel, perangkat-perangkat tersebut digunakan sebagai tambahan untuk rangkaian dan pengembangan plot yang irasional.
Metamorfosis dari satu objek ke objek lainnya, yang populer digunakan oleh para pelukis dan pembuat film surealis, adalah perangkat yang juga digunakan oleh para pemahat surealis. Seniman Swiss Meret Oppenheim menghubungkan cangkir teh, piring cawan, dan sendok dengan bulu binatang dalam karyanya Object (Breakfast in Fur) (1936, Museum of Modern Art, New York City), membawa penyimaknya untuk membayangkan sensasi yang membingungkan dengan meminum dari cangkir serupa itu.
Banyak surealis yang menjadi terpesona dengan mitos. Menurut Freud, mitos-mitos mengungkap belenggu kejiwaan yang tersembunyi dalam setiap manusia. Psikolog Swiss Karl Jung meneruskan dengan argumen bahwa mitos – mengesampingkan tempat asal dan waktu terjadinya – menunjukkan persamaan yang patut diperhatikan. Ia menjelaskan persamaan-persamaan tersebut melalui keberadaan apa yang ia sebut dengan “ketidaksadaran kolektif”, lapisan kejiwaan yang entah bagaimana dimiliki oleh semua manusia. Seperti halnya mimpi menampilkan gambaran-gambaran irasional yang mengungkap kejiwaan pemimpinya, mitos mengungkap kejiwaan semua umat manusia.
Dalam lukisan Dali “Metamorphosis of Narcissus”(1934, Tate Gallery, London, England), sang seniman merujuk pada tokoh mitos Yunani kuno, Narcissus, yang mana adalah seorang anak muda yang jatuh cinta pada bayangannya sendiri dan dialih-bentukkan menjadi bunga yang cantik. Mitos-mitos Yunani menarik para surealis karena metamorfosis (perubahan dari satu bentuk ke bentuk lain) adalah tema yang paling sering mereka ulang. Secara serupa, dalam lukisan Dali, apa yang pada pandangan pertama tampak seperti pantat manusia, dilihat dengan cara lain, menjadi gambar tangan yang memegang telur.
Mitos-mitos juga menarik bagi surealis dikarenakan peran pentingnya bagi budaya-budaya non-barat. Dalam pandangan para pengikut Freud, peradaban barat berada dalam bahaya karena menceraikan kemanusiaan dari sifat alaminya. Secara luas dipercaya bahwa budaya-budaya non-barat lebih selaras dengan sifat dan dorongan-dorongan alami – dorongan-dorongan yang diekspresikan melalui mitos-mitos dan seni kebudayaan tersebut. Seorang surealis yang meminjam dari kesenian Afrika untuk karyanya adalah pemahat Swiss Alberto Giacometti. Dalam membuat “Spoon Woman” (1926, Museum of Modern Art, New York City), yang mana di dalamnya sendok menyerupai juga bentuk badan wanita yang berlekuk, Giacometti dipengaruhi oleh orang suku Dan di Liberia dan Cote d’Ivoire, yang mana sendok-sendok dan centong-centongnya juga menyerupai bentuk manusia.
IV. TEKNIK-TEKNIK SUREALIS
Sebuah strategi yang digunakan para surealis untuk mengangkat gambaran-gambaran dari alam bawah sadar disebut “Exquisite Corpse”. Dalam bentuk seni kolaborasi ini, sehelai kertas dilipat menjadi empat bagian lipatan, dan empat seniman berbeda memberi kontribusi berupa representasi gambarannya tanpa melihat kontribusi seniman-seniman lainnya. Yang pertama menggambar kepala, melipat lagi kertasnya lalu menyerahkannya kepada seniman lainnya, yang menggambar bagian atas tubuh; yang ketiga menggambar kedua kaki, dan yang keempat, menggambar bagian bawah tubuh. Para seniman itu lalu membuka lipatan kertas untuk mempelajari dan menginterpretasikan kombinasi gambar tersebut.
Max Ernst, surealis Jerman, menemukan teknik lain yang menggunakan kemungkinan dan ketidaksengajaan: frottage (bahasa Perancis untuk “menggosok”). Dengan menempatkan kepingan-kepingan kayu atau logam yang kasar di bawah kanvas dan selanjutnya melukis atau menggambar dengan pensil di atasnya, sang seniman mentransfer motif kasar dari permukaan tersebut ke dalam karya-jadi. Dalam “Laocoon, Father and Sons” (1926, Menil Collection, Houston, Texas), Ernst meracik motif kasar kemungkinan dengan cara menggosok, sambil merujuk juga pada tokoh mitos Yunani, Laocoon, seorang imam Troya yang bergulat dengan piton-piton raksasa.
Barangkali teknik paling penting yang digunakan surealis untuk mengangkat alam bawah sadar adalah “automatisme”. Dalam lukisan, automatisme dibuat dengan membiarkan tangan menjelajahi permukaan kanvas tanpa campur tangan dari pikiran sadar. Tanda-tanda yang dihasilkan, mereka pikir, tidak akan menjadi acak atau tak berarti, tapi akan dibimbing pada setiap titiknya dengan memfungsikan pikiran bawah sadar sang seniman, dan bukan oleh pikiran rasional atau pelatihan keartistikan. Dalam “The Kill” (1944, Museum of Modern Art, New York City), pelukis Perancis Andre Mason menerapkan teknik ini, tapi kemudian ia menggunakan tanda-tanda yang telah diimprovisasi sebagai dasar untuk penguraiannya. Betapapun mengada-adanya penyerupaannya dengan objek nyata (dalam hal ini, wajah atau bagian tubuh), ia memperbaikinya untuk membuat hubungannya tampak lebih jelas. Karena Masson tidak menentukan sebelumnya hal yang menjadi subjek dari lukisannya, para surealis mengklaim bahwa uraian-uraiannya selanjutnya dimotivasi secara murni oleh keadaan emosionalnya selama pembuatannya.
Seniman lainnya yang menggunakan teknik automatisme adalah pelukis Spanyol Joan Miro. Dalam “Birth of the World” (1925, Museum of Modern Art, New York City), contohnya, ia menuangkan zat warna secara acak ke atas kanvas dan membiarkan lukisannya melaju melintasi permukaannya mengikuti gravitasi, menciptakan serentetan hasil yang tak bisa ia prediksi ke depannya. Sejalan dengan Masson, langkah dalam karya lukisan seniman lainnya malah dibuat lebih secara disengaja dan diperhitungkan. Sang seniman mungkin telah merenungkan warna yang akan dituangkan ke atas kanvas untuk beberapa lama, lalu, terinspirasi oleh bentuk-bentuk dan makna-makna yang mereka anjurkan, menambahkan beberapa lekukan, bentuk-bentuk abstrak yang memunculkan wujud-wujud hidup. Judul “Birth of the World” menyiratkan bahwa dunia diciptakan dari tiada, tapi juga merepresentasikan lahirnya kesadaran melalui penciptaan lukisan.
Beberapa surealis, diantaranya Ernst, Yves Tanguy dari Perancis, dan Roberto Matta dari Chili, menggunakan kombinasi teknik-teknik tersebut untuk menyiratkan keadaan alam mimpi atau untuk menghasilkan perbendaharaan abstrak dari bentuk-bentuk. Mereka sesudahnya kesulitan untuk menyimpannya ke dalam sebuah kategori. Dalam karya Matta “The Unknowing” (1951, Museum of Modern Art, Vienna, Austria) contohnya, sang seniman telah membuat ruang dan objek-objek tiga dimensi yang kelihatan solid. Objek-objek tersebut, bagaimanapun juga, sangat ambigu sehingga penyimaknya bisa melihatnya dengan berbagai cara dan menyimpulkan interpretasi mereka sendiri-sendiri terhadap lukisan tersebut.
V. SASTRA SUREALIS
Meskipun surealisme paling banyak memberikan pengaruh dalam seni
visual, gerakan tersebut pada awalnya dimulai sebagai gerakan
kesusastraan. Menurut Andre Breton, karya surealis yang pertama adalah
“Les champs magnétiques” (1920; The Magnetic Fields, 1985), kumpulan
tulisan automatisme yang ia tulis berkolaborasi dengan penulis Perancis
Philippe Soupault. Penulis-penulis surealis penting lainnya antara lain
para penulis Perancis Louis Aragon, Jean Cocteau (yang juga membuat
film-film surealis), dan Paul Éluard. Beberapa penulis surealis membuat
catatan-catatan dari mimpi, dan, seperti pelukis surealis, beralih pada
teknik automatisme untuk mengakses alam bawah sadar. Dalam penulisan
automatis para surealis membiarkan pikirannya mengalir dengan bebas ke
dalam halaman kertas tanpa mencoba untuk menyunting atau mengaturnya.
Hasil aliran kata-kata tersebut seringkali susah dimengerti. Seperti
pelukis surealis, para penulis tersebut kemudian memodifikasi
automatisme murni dari percobaan awal mereka dengan menyuntingnya,
seringkali dengan penegasan yang seksama terhadap gambaran-gambaran
simbolis.Para penulis surealis menggali kembali ketertarikan dalam dua orang penyair Perancis yang karyanya sepertinya telah mengandung benih-benih surealis: Arthur Rimbaud dan Isidore Ducasse, yang nama penanya adalah Le Comte de Lautréamont. Breton mengadopsi ungkapan dari Lautreamont “cantik seperti kesempatan yang bertemu di meja mesin jahit yang terpotong dan sebuah payung,” sebagai contoh yang mengejutkan, ketidakberaturan kecantikan yang diharapkan para surealis untuk diungkapkan.
VI. PENGARUH SUREALISME
Surealisme dinilai sebagai salah satu dari gerakan-gerakan seni yang
paling penting dan berpengaruh di Eropa pada paruh pertama abad 20.
Banyak surealis, termasuk Breton, Masson, Ernst, and Matta, menghabiskan
waktu di Amerika Serikat selama Perang Dunia II (1939-1945). Kehadiran
mereka terbukti penting bagi perkembangan para pelukis
abstrak-ekspresionis, terutama bagi karya Arshile Gorky, Robert
Motherwell, dan Jackson Pollock. Surrealism juga meninggalkan pengaruh
kekal pada seni Amerika Latin, dalam karya seniman-seniman seperti Frida
Kahlo dari Meksiko dan Wifredo Lam dari Kuba.Sumber: Encarta Reference Library
Kontributor: Claude Cernuschi
Diterjemahkan oleh: Sam Haidy
Penyunting : Rio Dwi Seprianto,S.Sn
Kamis, 03 September 2009
REFLEKSI TEORI KRITIK SENI HOLISTIK
Kritik seni sudah lama dikenal dalam dalam dunia seni maupun sastra. Dalam dunia pendidikan maupun penelitian pun sudah banyak diterapkan. Walaupun semula, seperti sifatnya yang evaluatif, pendekatan kritik seni digunakan untuk penelitian evaluatif, namun dalam perkembangannya dapat digunakan untuk jenis penelitian lainnya baik penelitian dasar maupun terapan karena sebenarnya dalam pendekatan ini ada aspek deskriptif, interpretatif, dan aspek evaluatif.Pendekatan kritik seni yang dalam analisisnya menggunakan tiga faktor seperti faktor genetik, objektif, dan afektif dapat memecahkan masalah penelitian secara komprehensip seperti sifat penelitian kualitatif yang fenomenologis dan hermeneutik. Sifatnya yang lentur, pendekatan ini dirasa sangat aplikatif untuk penelitian-penelitian pada umumnya lebih khusus lagi untuk penelitian dalam cabang ilmu humaniora.
Kata kunci : pendekatan kritik seni holistik, refleksi, fenomeologi, hermeneutik
A. Pendahuluan
Tidak bisa dipungkiri bahwa penelitian naturalistik yang dikenal secara luas sebagai penelitian kualitatif mengalami perkembangan yang sangat pesat dengan berbagai bentuknya. Istilahnya pun bisa bermacam-macam misalnya penelitian naturalistik, pascapositivistik, etnografi, fenomenologis, hermeneutik, subjektif, interpretif, humanistik, dan studi kasus. Biasanya istilah-istilah ini muncul karena adanya penekanan pandangan yang berbeda yang dianggap lebih penting yang mendorong untuk memilih istilah khusus untuk membedakan dengan azas mereka dengan azas yang lain (Lincoln & Guba, 1985). Menurut Sutopo (1995 : 4) pilihan istilah seperti disebut di atas sering didasarkan pada bidang ilmu yang menggunakannya, misalnya penelitian naturalistik datang dari sosiologi, etnografi datang dari antropologi, dan studi kasus datang dari psikologi.
Penelitian kualitatif bersifat sangat lentur sehingga sangat terbuka bagi bidang-bidang ilmu secara luas. Dalam segi disainnya, misalanya, penelitian kualitatif bisa bergerak luwes mengikuti irama interpretasi, refleksi, yang juga bisa bersifat subjektif. Penyusunannya bisa disesuaikan dengan kondisi sebenarnya yang dijumpai di lapangan. Itulah sebabnya penganut aliran positivisme sangat menentangnya. Mereka memandang penelitian kualitatif tidak ilmiah. Namun demikian, perdebatan panjang ini malah berdampak positif terutama dalam meningkatkan kemantapan paradigma penelitian kualitatf, terutama dalam metodologinya. Guba (1985) adalah salah satu tokoh kuantitatif yang banyak mengkritik pandangan positifisme sebagai aliran penelitian kuantitatif yang dianggap kurang memadai.
Aktivitas penelitian kualitatif sangat kuat diwarnai oleh tafsir hermeneutik yang mengarahkan pada penafsiran ekspresi yang penuh makna dan dilakukan dengan sengaja oleh manusia. Setiap karya maupun peristiwa selalu memiliki makna sebagai hasil interpretasi para pelaku atau pembuat karyanya. Karya seni misalnya, merupakan hasil interpretasi atas sesuatu, jika sampai pada pengamat karya tersebut harus diinterpretasi pula. Dalam penelitian kualitatif alur disainnya mirip dengan proses pengamatan seni yang sering disebut kritik seni. Peneliti tidak pernah menganggap bahwa setiap deskripsi bersifat definitif, seperti halnya dalam penelitian kuantitatif. Tidak ada kesimpulan yang bersifat general. Sesuai dengan sifatnya yang fenomenologis, bisa saja beda tafsir jika ada dua pengamat seni atau peneliti yang mengamati suatu subjek. Jika fenomenanya mendukung maka deskripsinya dapat dipertanggung jawabkan. Karena menyangkut penafsiran tesebut maka tidak lepas dari penelitinya dan yang diteliti (teks). Dalam menafsirkan sebuah karya seni, bisa disebut teks, sebuah hasil penafsiran sepenuhnya ada di tangan peneliti. Penafsiran termasuk evaluasi sebuah karya seni memerlukan tahap-tahap dan aspek-aspek yang dikaji. Tahap-tahap ini sesuai dengan yang ada pada penelitian kualitatif.Istilah kritik seni sudah lama didengungkan oleh para peneliti seni, kritikus seni maupun pemerhati sastra. Bahkan, dalam bidang ilmu lain, kritik seni dapat digunakan. Dalam disiplin ilmu humaniora, misalnya, Eliot Eisner (1979:1983) menganjuran perlunya penelitian dan evaluasi dengan menggunakan pendekatan kritik seni. Seperti halnya sifat kegiatan kritis yang bersifat evaluatif, kegiatan Eisner ini lebih memfokuskan kepada aktivitas evaluasi program pendidikan. Dari pengalaman penelitian-penelitiannya Eisner semakin mantap dan mempertegas bahwa kritik mampu menyajikan tiga aspek pokok dalam evaluasi, yaitu (1) aspek deskriptif, (2) aspek interpretative, dan (3) aspek evaluatif (Sutopo : 1995:6).Adalah HB. Sutopo yang sejak tahun 1990-an lebih gencar mendengungkan kritik seni dan selanjutnya kritik seni holistik di Indonesia sebagai sebuah pendekatan penelitian kualitatif. Beberapa usaha telah dipaparkannya sekaligus diterapkan dalam penelitian-penelitiannya, di lingkungan akademiknya, maupun masyarakat akademik pada umumnya.Pendekatan kritik seni yang dianggap sangat komprehensif dianggap para praktisi penelitian dan akademisi cukup layak diterapkan dalam penelitian kualitatif. Pendekatan ini juga sekaligus menutup bebarapa kekurangan yang sering dialami beberapa pendekatan yang masih dianggap berat sebelah dalam memecahkan sebuah masalah misalnya pendekatan historis, formalis, maupun pendekatan lain yang dianggap kurang komprehensif untuk memecahkan suatu masalah penelitian.Masalah ini juga sering penulis jumpai pada penelitian-penelitian mahasiswa yang mengupas suatu permasalahan hanya permukaan saja yang juga hanya dilihat dari satu sisi saja tanpa melihat sisi lain yang juga mempengaruhi suatu karya, maupun program, atau peristiwa. Namun demikian, dalam perkembangannya ide pendekatan kritik seni ini bukan tidak mendapat hambatan atau pertentangan. Masih banyak praktisi penelitian maupun para akademisi meragukan pendekatan ini, apalagi jika diterapkan untuk semua bidang ilmu dalam penelitian kualitatif. Pertaanyaan sederhana pernah disampaikan beberapa peneliti seni, “Bagaimana jika yang diteliti atau pecipta karya, atau program sudah meninggal dunia?” Pertanyaan yang selalu ditanyakan bagi peneliti selain seni adalah “Bagaimana mungkin sebuah pendekatan penelitian seni yang memiliki karakter tersendiri bisa diterapkan umntuk penelitian pada umumnya?”.Tulisan ini sedikit memaparkan teori tentang kritik seni dan kritik seni holistik, dan juga hubungannya dengan penelitian kualitatif. Paparan ini juga merupakan refleksi sebuah teori yaitu kritik seni yang dimulai dari definisi, baik dari bagian-bagian teori tersebut dan hubungannya satu sama lain termasuk dalam penelitian kualitatif
Penelitian kualitatif bersifat sangat lentur sehingga sangat terbuka bagi bidang-bidang ilmu secara luas. Dalam segi disainnya, misalanya, penelitian kualitatif bisa bergerak luwes mengikuti irama interpretasi, refleksi, yang juga bisa bersifat subjektif. Penyusunannya bisa disesuaikan dengan kondisi sebenarnya yang dijumpai di lapangan. Itulah sebabnya penganut aliran positivisme sangat menentangnya. Mereka memandang penelitian kualitatif tidak ilmiah. Namun demikian, perdebatan panjang ini malah berdampak positif terutama dalam meningkatkan kemantapan paradigma penelitian kualitatf, terutama dalam metodologinya. Guba (1985) adalah salah satu tokoh kuantitatif yang banyak mengkritik pandangan positifisme sebagai aliran penelitian kuantitatif yang dianggap kurang memadai.
Aktivitas penelitian kualitatif sangat kuat diwarnai oleh tafsir hermeneutik yang mengarahkan pada penafsiran ekspresi yang penuh makna dan dilakukan dengan sengaja oleh manusia. Setiap karya maupun peristiwa selalu memiliki makna sebagai hasil interpretasi para pelaku atau pembuat karyanya. Karya seni misalnya, merupakan hasil interpretasi atas sesuatu, jika sampai pada pengamat karya tersebut harus diinterpretasi pula. Dalam penelitian kualitatif alur disainnya mirip dengan proses pengamatan seni yang sering disebut kritik seni. Peneliti tidak pernah menganggap bahwa setiap deskripsi bersifat definitif, seperti halnya dalam penelitian kuantitatif. Tidak ada kesimpulan yang bersifat general. Sesuai dengan sifatnya yang fenomenologis, bisa saja beda tafsir jika ada dua pengamat seni atau peneliti yang mengamati suatu subjek. Jika fenomenanya mendukung maka deskripsinya dapat dipertanggung jawabkan. Karena menyangkut penafsiran tesebut maka tidak lepas dari penelitinya dan yang diteliti (teks). Dalam menafsirkan sebuah karya seni, bisa disebut teks, sebuah hasil penafsiran sepenuhnya ada di tangan peneliti. Penafsiran termasuk evaluasi sebuah karya seni memerlukan tahap-tahap dan aspek-aspek yang dikaji. Tahap-tahap ini sesuai dengan yang ada pada penelitian kualitatif.Istilah kritik seni sudah lama didengungkan oleh para peneliti seni, kritikus seni maupun pemerhati sastra. Bahkan, dalam bidang ilmu lain, kritik seni dapat digunakan. Dalam disiplin ilmu humaniora, misalnya, Eliot Eisner (1979:1983) menganjuran perlunya penelitian dan evaluasi dengan menggunakan pendekatan kritik seni. Seperti halnya sifat kegiatan kritis yang bersifat evaluatif, kegiatan Eisner ini lebih memfokuskan kepada aktivitas evaluasi program pendidikan. Dari pengalaman penelitian-penelitiannya Eisner semakin mantap dan mempertegas bahwa kritik mampu menyajikan tiga aspek pokok dalam evaluasi, yaitu (1) aspek deskriptif, (2) aspek interpretative, dan (3) aspek evaluatif (Sutopo : 1995:6).Adalah HB. Sutopo yang sejak tahun 1990-an lebih gencar mendengungkan kritik seni dan selanjutnya kritik seni holistik di Indonesia sebagai sebuah pendekatan penelitian kualitatif. Beberapa usaha telah dipaparkannya sekaligus diterapkan dalam penelitian-penelitiannya, di lingkungan akademiknya, maupun masyarakat akademik pada umumnya.Pendekatan kritik seni yang dianggap sangat komprehensif dianggap para praktisi penelitian dan akademisi cukup layak diterapkan dalam penelitian kualitatif. Pendekatan ini juga sekaligus menutup bebarapa kekurangan yang sering dialami beberapa pendekatan yang masih dianggap berat sebelah dalam memecahkan sebuah masalah misalnya pendekatan historis, formalis, maupun pendekatan lain yang dianggap kurang komprehensif untuk memecahkan suatu masalah penelitian.Masalah ini juga sering penulis jumpai pada penelitian-penelitian mahasiswa yang mengupas suatu permasalahan hanya permukaan saja yang juga hanya dilihat dari satu sisi saja tanpa melihat sisi lain yang juga mempengaruhi suatu karya, maupun program, atau peristiwa. Namun demikian, dalam perkembangannya ide pendekatan kritik seni ini bukan tidak mendapat hambatan atau pertentangan. Masih banyak praktisi penelitian maupun para akademisi meragukan pendekatan ini, apalagi jika diterapkan untuk semua bidang ilmu dalam penelitian kualitatif. Pertaanyaan sederhana pernah disampaikan beberapa peneliti seni, “Bagaimana jika yang diteliti atau pecipta karya, atau program sudah meninggal dunia?” Pertanyaan yang selalu ditanyakan bagi peneliti selain seni adalah “Bagaimana mungkin sebuah pendekatan penelitian seni yang memiliki karakter tersendiri bisa diterapkan umntuk penelitian pada umumnya?”.Tulisan ini sedikit memaparkan teori tentang kritik seni dan kritik seni holistik, dan juga hubungannya dengan penelitian kualitatif. Paparan ini juga merupakan refleksi sebuah teori yaitu kritik seni yang dimulai dari definisi, baik dari bagian-bagian teori tersebut dan hubungannya satu sama lain termasuk dalam penelitian kualitatif
Selasa, 01 September 2009
Eksplorasi Seni di Bangkinang


Oleh: Rio Dwi Seprianto, S.Sn
(Pelaku dan Pengamat Seni)
Sejauh ini bisa dilihat sebarapa besar perhatian pemerintah daerah terhadap kapasitas dan eksplorasi seni di daerah Kampar tepatnya kota Bangkinang. hal ini memicu minoritas seniman setempat yang tunggang langgang mencari jati diri untuk bisa muncul ke permukaan, meskipun berbagai cara yang dianggap benar, namun dimata pemerintah setempat tetap dianggap pendistorsian hukum yang mengandung makna penyimpangan. banyak karya-karya seni lukis, patung maupun grafis yang dihasilkan, namun respon yang diterima tidak sebanding dengan harapan seniman yang bertolak belakang dengan rezim pemerintah dan masyarakat yang fanatik dengan agama dan dasar hukum yang masih abu-abu. Seniman yang memiliki ruang imaginasi yang tak terbendung oleh kebekuan zaman, mulai pincang dalam menyikapi perkembangan seni rupa di kabupaten Kampar khususnya seni lukis saat ini.
Bangkinang-kampar yang peka terhadap religinya mengesampingkan seni sebagai lahan yang terasing. monumental atau seni patung yang mulai dibangun dimentahkan oleh masyarakat sebagai dampak propaganda yang dianggap sebagai oposisi kaum adat.

Langganan:
Postingan (Atom)












